Melihat KLaim Malaysia Dari Sisi Lain…
Opini September 1st, 2009
Beberapa hari yang lalu, secara “sengaja dan tidak sengaja” membaca sebuah tulisan opini di Haria Koran Tempo yang ditulis oleh seseorang yang sedang terlibat dalam proyek Jelajah Zambrud Khatulistiwa. Bahwa beliau telah mendatangi beberapa situs-situs bersejarah di berbagai penjuru nusantara, antara lain kota Barus di Sumatera Utara yang melegenda dari catatan Ibnu Batuta dan penjelajah dari eropa, sampai ke pulau enggano di Bengkulu yang ternyata arti enggano diambil dari bahasa portugis yang berarti pulau salah, dan beberapa ekspedisi lainnya.
Demikianlah memaknai peninggalan leluhur yang tercipta dalam bentuk situs dan ragam budaya merupakan bentuk kepedulian yang sebenarnya atas apa yang kita namakan harta karun nusantara. Betapa marahnya kita, ketika lagu rasa sayange, reog ponorogo, tari kuda kepang, seni tari suku dayak, kerajinan batik sampai tari pendet muncul dalam iklan pariwisata malaysia. Yah…mereka telah pintar memanfaatkan ketidakpedulian kita terhadap budaya dan peninggalan sejarah bangsa kita sendiri untuk di bungkus lalu dicap “made in malaysia” lalu dijual ke penjuru benua lain sebagai upaya menarik hati para penduduk negerinya “menghamburkan” uangnya di Malaysia. Kita telah dijadikan sebagai halaman belakang oleh Malaysia dan Singapura. Mereka menyulap dirinya menjadi beranda yang lebih layak dikunjungi daripada halaman belakang. Mereka menyajikan hidangan yang kita buat di halaman belakang dan mengklaimnya sebagai hidangan buatan mereka. Sungguh ironi melihat cara kita menyikapi permasalahan ini akhir-akhir ini.
Cap jempol darah, demo dimana-mana, bakar bendera sampai ke rencana untuk men-sweeping warga negara malaysia untuk di usir pulang ke negara nya. Ajakan untuk memutus hubungan diplomatik pun mengemuka di permukaan, istilah “ganyang malaysia” mencuat kembali bangkit dari kuburnya. Apa makna ini semua?
Mari lah kita sedikit arif, lihat dan evaluasi diri sendiri, sejauhmana kepedulian kita terhadap budaya bangsa. Betapa banyak peninggalan bangsa ini yang terbengkalai. Pemerintah, masyarakat, termasuk diri kita mungkin lebih senang memikirkan diri sendiri. Tengoklah berbagai peninggalan budaya yang tersebar di pelosok negeri tanpa dirawat dan perlahan runtuh lapuk dimakan jaman. Bagaimana mungkin kita bereaksi bila kita sendiri kurang menghargai berbagai peninggalan budaya itu semua.
Nasionalisme itu perlu, tapi jangan membabi buta. Malaysia layak di cap sebagai “Malingsia” atas klaimnya terhadap beberapa budaya milik kita. Tapi pertanyaannya adalah sejauh mana kita telah peduli terhadap budaya kita sendiri?
Wallahualam, hanya kita sendiri lah yang tahu.
About